0

Nama Saya Supriyadi

tenNama saya Supriyadi. Saya nggak tau mengapa orang tua saya memberi nama yang mirip dengan Pahlawan dari Blitar itu. Bahkan gara-gara nama ini, banyak orang menyangka saya keturunan Jawa. Padahal bapak dan ibu saya asli Bangka. Nenek kakek juga tidak ada darah Jawa. Saya lahir di tahun 1968. Hmm… kata orang ini usia yang matang, hehehe.

Katanya nama kecil saya dulu Didi. Tapi karena sering sakit-sakitan, orang tua lantas “mengganti” nama panggilan saya jadi Ali. Nama inilah yang kemudian lebih populer sebagai nama kecil saya sampai sekarang. Ngga tau apakah ini gara-gara bapak saya fans Muhammad Ali.

Bapak saya, Jamhir, almarhum, dulu kerja sebagai mantri di Rumah Sakit Timah Toboali.  Ibu saya Zurkiyah, juga sebagai perawat di RS Timah tersebut. Kami tinggal di Jl. Merdeka, kampung padang dekat Lapangan Bola. Masa kecil saya dihabiskan di kampung padang ini dengan kawan-kawan sebaya, seperti Edi anak Cik Arma, Dharma  Nasron Bahar alias Merawek, Tony Purnama, yang sekarang jadi DPRD Provinsi Babel (dan almarhum kakaknya, Apui), Darwan, Kasi (sebelum pindah ke Perumnas), dll.

Tahun 1975, saya sekolah di SD 4 Toboali. Lokasinya sama dengan SMA YPK sekarang. Saya masih ingat guru favorit kami dulu, namanya Ibu Rob, almarhum. Karena ada pengembangan sekolah baru, maka waktu kelas IV, kami dipindahkan ke sekolah baru, yakni SD Negeri 217, yang berlokasi di Bukit Permai (Parit Lapan). Beberapa kawan sekolah yang saya masih kenal,seperti Irwanto Ahoed, Nining (Sri Lisnanur), M. Sani, Mbo Wasri, Eliana, Supratman, dan lain-lain. Kepala sekolahnya waktu itu Pak Ayub.

Lulus SD tahun 1981 saya melanjutkan ke SMP Negeri 1. Kepala sekolahnya Pak Usman Samin. Guru-gurunya seperti Pak Aswat, Pak Tamzil (almarhum), Pak Sar, Pak Kristilan, Pak Hamzah dan isterinya, dan lain-lain. Prestasi sekolah saya di SMP biasa-biasa saja. Tidak pernah jadi juara kelas, tapi juga nggak bodoh-bodoh banget. Di masa SMP inilah masa-masa sekolah di mana paling banyak kenangan manis yang saya buat dengan kawan-kawan. Dan banyak keindahan masa SMP ini masih berbekas sampai sekarang.

Kawan-kawan SMP seperti Saiful Bahri (Titong), Mustar, Safril (jadi inget pengalaman bertiga saya, Mustar dan Safril, naik motor sampai ditilang Polisi Sitompul, dulu sering dipanggil Polisi Tumpul, di depan Wisma Sabang,  waktu abis pulang belajar bersama, hehehe). Ada Capon Jeriji,  Alm. Srikandi,  Ajiri, Suratno Gadung, Umar Zaki Bikang, Wewen, Nining (nih orang ketemu terus dari SD sampai SMA, hehehe), Eka Dwi (terakhir ketemu di Bandung), Emi Marisina, Suhaimi, Asri,  dan banyak lagi yang lainnya.

Lulus SMP pada tahun 1984, saya melanjutkan ke SMA Negeri 2 Pangkalpinang. Waktu itu belum ada SMA Negeri di Toboali. Jadi kalau yang diterima di negeri, alternatifnya cuma di Pangkalpinang atau di Sungailiat. Hmm…jaman dulu Bangka Selatan memang sudah tertinggal. SMA negeri aja belum ada.

Di SMA ini alhamdulillah prestasi saya nggak jelek-jelek amat. Kepala Sekolahnya Pak Rusdi, almarhum. Sempat beberapa kali jadi juara kelas. Pernah juga jadi Siswa Teladan tingkat sekolah, bahkan menjadi terpilih jadi Siswa Teladan untuk Kotamadya Pangkalpinang. Mewakili Pangkalpinang untuk seleksi di Palembang, sayang nggak juara. Kalah sama anak FX Xaverius yang memang hebat waktu itu.

Selama di SMA juga pernah ikut Cerdas Cermat di televisi Palembang. Juara pula. Wah, pulang dari acara itu, langsung ngetop gara-gara masuk TV. Jadi banyak yang kenal, hehehe… Tapi ada apesnya juga. Gara-gara weekend-nya pulang mudik ke Toboali, pas hari Senen telat masuk. Padahal Senen pagi itu, kita yang jadi pemenang Cerdas Cermatdipanggil ke depan pas upacara bendera. Alhasil, saya yang telat langsung kena setrap. Apes deh, barusan kemaren bawa bangga nama sekolah, nyampe sekolah malah kena setrap. Hehehe.

Selepas SMA tahun 1987, saya memang sudah bertekad mau melanjutkan kuliah di Jawa. Waktu di SMA kita merupakan angkatan pertama, jadi belum ada angkatan di atas yang masuk perguruan tinggi. Kita betul-betul menjadi “kelinci percobaan”. Alhamdulillah, waktu Sipenmaru (seleksi masuk PT jaman dulu), saya diterima di ITB, jurusan Matematika. Saya ngambil dua waktu itu, Teknik Fisika dan Matematika. Tapi yang lolos Matematika. Alhamdulillah, saya akhirnya bisa kuliah di salah satu universitas tjap gadjah doedoek tersebut.

And time goes on. Kuliah mencetak saya menjadi manusia. Menjadi orang yang mandiri. Di sini saya belajar mencari duit dari menulis di media. Alhamdulillah, beberapa periode mendapat beasiswa, yang membuat orang tua saya lebih ringan membiayai kuliah saya. Dari Yayasan Supersemar dua kali, dari Bank Duta pernah juga, dari Atlantic Richfield Indonesia (ARII).

Tahun 1993, saya lulus dari ITB. Dan tak begitu lama “nganggur” saya dipangil bekerja di sebuah harian ekonomi Bisnis Indonesia. Di sinilah awal saya meniti karir profesional sebagai karyawan…

Filed in: Tentang Saya

Bookmark and Promote!

Leave a Reply

Submit Comment
© 2014 Supriyadi (Bang Ali). All rights reserved. XHTML / CSS Valid.
Developed by Ayo Bangun.